Bhakti Sosial dan Buka Bersama Eyang Agung di ‘Ujung Dunia’

 

Pada Minggu 12 Juni lalu Eyang Agung melakukan bhakti sosial dan buka bersama yatim di Anyer, Banten dengan membagikan sekitar 200 paket. Berikut laporannya.

 

Seperti  sebelum-sebelumnya, bhakti sosial Eyang Agung selalu dilakukan di  lokasi yang jauh terpencil, susah ditempuh kendaraan dengan  kondisi perekonomian masyarakat  berada di bawah garis kemiskinan. Kali ini pun demikian. Kegiatan dilakukan di lokasi yang sungguh-sungguh mencerminkan Indonesia yang tradisional alias Indonesia yang  perdesaan banget .

 

Meski  baksos  berlangsung di Anyer, tepatnya di desa Kamasan, Kampung Pantai Sirih,  RT 07, RW 7 Sumerang, Cinangka, Anyer, namun profil masyarakatnya  tidaklah seindah nama ‘Anyer’ yang  mendunia sebagai obyek wisata terkenal. Padahal desa tersebut tidak begitu jauh dari bibir pantai dan penduduknya sebagian besar pun hidup dari ‘pantai’. Tetapi  bukan nelayan, melainkan  pelayan jasa-jasa industri pariwisata, seperti penjaga keamanan, tenaga kebersihan/office boy di hotel-hotel dan cottage sampai kepada penyedia jasa  alat-alat berenang, semisal ban perahu dan pengemudi banana boat.

 

Jika ditarik garis lurus jarak antara Desa Kamasan dan bibir pantai Anyer tidaklah lebih dari 1 km, namun karena tiadanya jalan tembus maka harus berbelok-belok, melalui jalan sempit yang di beton, jalan tanah, gang sempit dan pematang sawah. Bahkan tokoh masyarakat di sana Bapak Ahmad Supandi menyebutnya ‘ujung dunia’ dan dia sendiri pun mengaku jarang sekali datang ke lokasi itu.

 

Istirahat di Pasir Putih

 

Rombongan kecil Eyang Agung yang terdiri dari 6 orang berangkat dari Ciputat jam 13.30 wib mengendarai vellfire B.761 STI  dikemudikan langsung oleh Eyang Agung. Beruntung jalanan tidak macet sehingga  sampai di dekat lokasi lebih cepat, yakni sekitar jam 15.00.

 

Pengatur acara lokal Bapak Yuli mengatakan acara dimulai jam 16.00. Jadi masih ada sisa waktu sekitar 1 jam. Untuk  mengisi waktu Eyang Agung  masuk ke  lokasi wisata Pasir Putih Sirih. Obyek wisata ini termasuk tervaforit di Anyer karena pantainya landai, bersih dan berpasir putih. Di sini pun ada kamar-kamar atau villa kecil yang disewakan kepada pengunjung, harganya relatif murah, mulai dari Rp. 280.000/ malam. Penginapan ini pun bersih dan asri. Saat rombongan istirahat di sana pantai sepi. Maklum puasa.

 

Gang Sempit

 

Tidak lama kemudian Bapak Yuli datang menjemput dengan mengendarai motor. Dipandu Bapak Yuli, Eyang mengikuti  dari belakang. Maklum kalau sendirian tidak bakalan sampai ke alamat yang dituju, karena dalam peta pun (google map) tak tercantum.  Dari pantai Pasir Putih lokasi Bhakti Sosial dan Buka Bersama Yatim tidak begitu jauh. Hanya saja  jalannya yang memprihatinkan.  Keluar dari jalan Raya Anyer-Sirih, kendaraan berbelok ke kiri, masuk jalan kecil yang dibeton, namun betonnya tidak sampai ke ujung, hanya separoh saja. Turun dari jalan beton masuk jalan tanah yang sempit. Di kiri kanan terdapat kebun dan rumah-rumah penduduk yang masih sederhana.

 

Kehadiran rombongan Eyang Agung kontan menarik perhatian masyarakat, maklum mobil sekelas vellfire masuk ke dalam perkampungan kumuh becek dan sempit. Kan unik!

 

Mobil ternyata tidak bisa sampai ke lokasi, harus parkir di kebun ujung jalan yang masih lebar. Untuk ke lokasi harus berjalan kaki sekitar  1km. Jalannya sempit, masuk gang, perumahan penduduk sederhana yang berdempetan, pematang sawah dan kebon pisang.

 

Lokasinya ternyata di ujung jalan yang buntu. Bapak Yuli mengatakan jalan tersebut bukanlah jalan umum, tidak lama lagi akan dibongkar dan dijadikan saluran air oleh pemiliknya yakni anak perusahaan Krakatau Steel. Rumah-rumah dari kayu dan bambu yang berderet di sepanjang jalan itu pun harus siap dibongkar manakala pembangunan dimulai. Termasuk rumahnya Bapak Yuli. Maklum, mereka  mengakui, rumah-rumah itu memang menumpang. Maka tak heran bangunannya sangat sederhana, terbuat dari mambu, tiangnya kayu dan atapnya  daun kelapa. Sebagian tiangnya menancap di sawah atau rawa.

 

Ujung Dunia

 

Sesampai di lokasi, panitia lokal sudah mendirikan tenda. Tendanya cukup bagus untuk ukuran lokal, posisinya bersebelahan dengan kandang (tempat penambatan)  kerbau, sawah dan rumah penduduk. Masyarakat pun sudah berkumpul, terdiri dari yatim masyarakat miskin dan tokoh masyarakat. Tampak pula  Babinsa setempat Bapak Wahyu dari TNI AD.

 

Acara seremonial tidak banyak, hanya sambutan dari Eyang Agung, sambutan tokoh masyarakat setempat dalam hal ini oleh Bapak Ahmad Supandi, pembacaan tahlil-tahmid dan doa atau tawasulan yang dipandu oleh ustad Saidi (ustad lokal) dilanjutkan  pembagian hak-hak yatim.

 

Kemudian, saat azan berkumandang,  buka bersama pun dimulai  dengan sajian berbuka khas setempat, seperti kolak ubi, asinan roti  dan gorengan. Sajian ini disiapkan oleh ibu-ibu warga di lokasi.  Cukup segar dan khas. Terutama asinan roti yang barangkali bagi masyarakat luar masih asing. Sedangkan untuk makanan Eyang Agung menyiapkan nasi kotak yang sudah dipesan sebelumnya.

 

Dalam sambutannya, Bapak Ahmad Supandi mengatakan, kedatangan Eyang kelokasi yang disebutnya sebagai ‘ujung dunia’ cukup mengagetkan.

 

 “Saya  sendiri  baru kali ini  menginjak kaki di lokasi ini sebelumnya,” paparnya berseloroh.

Namun demikian Ahmad Supandi mengaku bangga atas perhatian dan kepedulian Eyang Agung yang jauh-jauh dari Jakarta datang ke kampunya untuk memberi santunan kepada yatim dan masyarakat miskin. Sodaqoh yang diberikan Eyang Agung  sangat membantu warganya.

 

Warga kampungnya, lanjut Ahmad Supandi, memang ‘desa banget’ masih sederhana dan sebagian besar hidup dibawah garis kemiskinan. Maka tidak heran kedatangan Eyang Agung yang  membagi-bagikansedekah, apalagi di bulan suci, amatlah membanggakan hatinya.

 

“Saya berharap anak-anak yatim dan duafa  yang mendapat santunan dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dan Eyang  Agung semakin banyak rezekinya,” harap Ahmad Supandi.

 

Dia pun meminta agar kedatangan Eyang Agung ke kampunya bukan sekali saja tetapi bisa berkelanjutan.

“Silaturrahmi ini hendaknya berkelanjutan sehingga keakraban dengan Eyang Agung semakin kuat,” pintanya.

 

Sedangkan Eyang Agung dalam sambutannya enggan menyebut bhakti sosial ini sebagai ‘santunan’ . Eyang lebih familier  disebut  sebagai ‘pemberian hak-hak yatim’

 

“Karena sesungguhnya dalam setiap harta yang kita miliki terdapat hak-hak yatim. Itulah yang harus kita keluarkan agar harta kita bersih. Hal yang sama pun  selalu saya katakan kepada anak-anak yatim asuhan saya di Ciputat yang jumlahnya sekitar 200-an anak. Saya selalu menyebutnya sebagai ‘pemberian hak-hak yatim’,  bukan santunan,” papar Eyang.***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

H. Eyang Agung WP :  Agar Lebih Bermanfaat

Eyang memang sengaja mencari lokasi terpencil untuk melakukan bhakti sosial dan buka bersama yatim bersama masyarakat  yang benar-benar  membutuhkan, belum tersentuh oleh donatur lain dan jauh dari riuh riang keramaian. Sehingga kemanfaatannya lebih terasa bagi penerima yakni  anak-anak yatim dan duafa setempat.

 

Sebelumnya Eyang juga  melakukannya di daerah terpencil dan rawan bencana, seperti di Babakan Madang, Bogor yang baru saja terkena bencana longsor, Sukabumi, Jawa barat,  di pedalaman Yogyakarta pasca gempa, di Pariaman Sumatera Barat dll. Intinya adalah Eyang ingin bhakti sosial ini benar-benar bermanfaat dan tepat sasaran. Tidak menimbulkan kesan ria oleh orang lain.

 

Eyang pun bertekad dapat melakukannya lebih sering, di luar yang rutin kita selenggarakan di Sasosno Hinggil Ciputat menjelang lebaran. Kalau yang di Sasono Hinggil sudah menjadi agenda rutin tahunan menjelang lebaran.

Ikhwal bhakti sosial dan buka bersama yatim di Kampung Sirih, Cinangka, Anyer ini adalah atas rekomendari Pak Yuli. Pak Yuli adalah sahabat  Eyang  yang baru berkenalan sebulan belakangan. Pak Yuli mengatakan di kampungnya cocok untuk melakukan bhakti sosial karena kondisi masyarakatnya cukup memprihatinkan. Eyang setuju dan nyatanya, seperti yang kita saksikan bersama, kondisi sosial-ekonomi masyarakatnya memang demikian. Bahkan rumah pak Yuli sendiri setiap saat bisa kena gusuran oleh pemilik lahannya.

 

Eyang berharap bhakti sosial ini dapat membantu dan meringankan beban kaum duafa dan menggembirakan anak-anak yatim, terutama di bulan puasa dan menjelang lebaran ini. Dengan menggembiarakn mereka, maka Allah pasti akan membalas dengan pahala yang berkali-kali lipat.***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tokoh Masyarakat UU Jamhudi : Eyang Agung Sangat

Saya tadinya tidak nyangka ternyata Eyang Agung masih muda seperti ini. Orang humoris dan mudah bergaul. Saya langsung saja bisa akrab dengan beliau. Sebagai warga di sini saya tentu sangat bangga dan senang, apalagi saya dilibatkan dalam kepanitiaan.  Tadi  saya pembawa  acara atau MC.

 

Kunjungan Eyang Agung ke sini adalah anugerah bagi warga kami. Maklum kami adalah warga kampung yang nota bene hidup di bawah garis kemiskinan. Di sini ada sekitar 170 KK. Umumnya mata pencarian tani di lahan milik orang lain atau di tanah milik perusahaan lain. Semua tanah di sini sudah ada yang punya. Jadi kebanyakan warga hanya numpang. Rumah-rumah yang ada di sini sifatnya numpang.

 

Ada juga sebagian warga  hidupya dari  pantai sebagai office boy di hotel, penjaga keamanan, pedagang musiman dll. Memang itulah andalan mata pencaharian kami. Jelas potret kami di sini jauh dari  kemewahan. Maka tak heran perhatian tokoh masyarakat seperti Eyang Agung yang dengan susah payah mau mengunjungi warga amatlah kami banggakan. Bapak bisa lihat sendiri mereka sangat ceria dan senang. Kami merasa mendapat rahmat di bulan puasa yang mulia ini.

Selama ini belum pernah ada bkhati sosial atau buka bersama ke sini. Kalau toh ada itu yang dikoordinir kelurahan dan berlangsung di masjid. Yang mau ke lokasi seperti ini hanya Eyang Agung saja.

 

Makanya saya secara pribadi sangat salut kepada Eyang Agung, mudah-mudahan beliau semakin sukses dan rezekinya semakin bertambah, sehingga tahun-tahun depan dapat bersilaturrahmi lagi ke sini.***

 

 

Visit us

JL. Eyang Agung, No. 27 A, Ciputat, Sarua Indah,Banten

Call us

081-1234-5678-910

Submitting Form...

The server encountered an error.

Form received.

Sehat Tanpa Obat
 Menyebar Dakwah Memperkokoh Aqidah

Debyo Web Design    Yogyakarta